Kunci Bahagia

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 “DAN AKU TIDAK MENCIPTAKAN JIN DAN MANUSIA MELAINKAN SUPAYA MEREKA BERIBADAH KEPADA-KU.” (QS ADZ-DZÂRIYÂT, 51:56)

Andai kita memasuki sebuah perpustakaan yang berisi ribuan buku berkualitas, buku manakah yang akan kita baca? Kemudian, pada saat yang bersamaan kita diminta untuk menyusun sebuah proposal bernilai milyaran rupiah. Sekali lagi, buku manakah yang akan kita prioritaskan untuk dibaca dan dipelajari? Jawabnya pasti, di antara ribuan buku tersebut, yang kita ambil adalah buku yang bisa menjadi sumber bagi materi proposal kita. Walau boleh jadi, materi dalam buku tersebut kurang menarik untuk dibaca.

Di dalam hidup pun demikian. Ada begitu banyak hal yang bisa kita kerjakan. Ada beragam ilmu yang kita pelajari. Namun, dari kesemua itu, manakah yang harus menjadi prioritas untuk dilakukan? Tentu saja, ilmu atau kegiatan yang paling bermanfaat, paling bisa mendatangkan keuntungan dalam hidup, paling menenangkan, dan bisa menyelamatkan dunia dan akhirat kita. Jika demikian, tiada ilmu yang memiliki kualifikasi demikian, kecuali ilmu ma’rifatullah, yaitu ilmu yang bisa membimbing kita untuk bisa mengenal Allah.

Mengapa demikian? Sesungguhnya, aneka masalah yang menerpa manusia, mulai dari ketidaktenangan hidup, resah, gelisah, stres, dan beragam efek turunannya, semua berakar dari kegagalan diri dalam mengenal Allah dengan baik dan benar. Padahal, ketika kita mengenal Allah, hidup akan jauh lebih nyaman dan tenang. Saat kita mengenal Allah, aneka kebaikan akan menghampiri: pikiran jernih, hati lapang, solusi mudah didapat, rezeki datang melimpah, badan sehat, dan lainnya. Intinya, dengan mengenal Allah, kita akan memasuki surga dunia sebelum surganya akhirat.

 

Maka, jauhkan diri dari memberikan “sisa” dari hidup kita kepada-Nya. Artinya, kita ingat kepada Allah hanya sisa dari urusan-urusan duniawi: sisa dari ingat orang, ingat uang, ingat pasangan, ingat gadget, ingat FB, medsos, dan sejenisnya. Sujud kepada Allah hanya sisa dari beragam kesibukan, tidak spesial. Sedekah, hanya sisa dari uang jajan, uang nonton, uang nongkrong. Tilawah Al-Quran, hanya sisa dari baca majalah, baca koran, baca internet. Menyebut nama Allah, juga hanya sisa, dibanding menyebut nama-nama yang lain. Demikian pula saat mencari ilmu tentang Allah, jangan sampai menjadi aktivitas sisa dari mencari ilmu-ilmu lainnya. Adakalanya kita sangat serius mencari dan mempelajari ilmu bisnis, matematika, fisika, ilmu bahasa, ilmu biologi, ilmu kedokteran, dan lainnya. Namun, mencari ilmu tentang Allah tidak menjadi bagian dari prioritas hidup. Bagaimana kita bisa baik dan benar dalam ibadah jika kita tidak mengenal-Nya?

Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan.

Doa

Pertama (1), melalui doa, yaitu permintaan diri yang sungguh-sungguh agar Allah berkenan menjadikan kita kenal kepada-Nya dengan pengenalan yang sebenar-benarnya. Inilah jalan yang dilewati para nabi dan orang-orang saleh untuk bisa sampai pada maqam ma’rifatullâh. Tanpa petunjuk dan bimbingan-Nya mustahil kita bisa mengenal dan mencintai-Nya.

Ilmu

Jalan kedua (2) adalah dengan mencari ilmu tentang Dia. Sesungguhnya, ilmu akan menjadikan hidup kita terang benderang, jelas, tertuntun, dan menenangkan. Maka, seriuslah dalam mengkaji ilmu tentang Allah (terkhusus Al-Asmâ’ul Husnâ), hadiri majelis-majelis ilmu yang bisa membuat kita semakin mengenal dan dekat dengan-Nya. Kita pun bisa mencari guru kompeten yang dapat membimbing atau mengarahkan kita untuk sampai pada derajat ma’rifatullâh.

Tentu saja, kita tidak cukup sekadar mencari atau mempelajari ilmu. Hal ketiga (3) yang tidak kalah penting adalah berusaha mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan. Bukankah ilmu itu hadir untuk diamalkan? Sampai-sampai Rasulullah saw. berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, yaitu ilmu yang tidak membuahkan amal kebaikan. Dan ketahuilah, ketika kita bersungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu yang sudah kita dapat, Allah Ta’ala niscaya akan menambah kepada kita ilmu yang baru. Sesederhana apapun ilmu yang kita punyai, tapi kalau diamalkan, Allah pasti akan terus menambahkannya.

Adapun yang keempat (4) adalah menjauhi aneka maksiat dan kesombongan. Maksiat, sekecil apapun, akan menjauhkan kita dari Allah, menutupi hati dari pancaran cahaya Ilahi, menumpulkan pikiran dan menumpuk kemalasan diri untuk dekat dengan-Nya. Demikian pula dengan kesombongan, dia akan menghalangi kita dari kebenaran. Kala dia bercokol di hati, kita akan menyepelekan ilmu, terlebih apabila ilmu itu datang dari seseorang yang tidak kita sukai atau kita anggap rendah derajatnya. Padahal, dalam pandangan Allah, orang tersebut memiliki derajat yang sangat mulia. (Abie Tsuraya/TasQ) ***

* Tulisan ini diadaptasi dari salah satu ceramah KH Abdullah Gymnastiar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *